Jumat, 20 Desember 2013

Syekh Maulana Akbar (Jamaluddin Akbar) dan duriyahnya

Silsilah Syekh Maulana Akbar (Jamaluddin Akbar)
 punjer wali songo terkenal  dg syeh jumadil kubro 


1. Rasulullah SAW
2. Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah SAW 
3. Sayyidina Husain (Abi Abdillah) 
4. Imam Zaenal Abidin
5. Imam Muhammad al-Baqir,
6. Ja’far ash-Shadiq,
7. Ali al-Uraidhi, 
8. Muhammad al-Naqib, 
9. Isa ar-Rummi,
10. Ahmad al-Muhajir, 
11. Ubaidullah,
12. Alwi Awwal, 
13. Muhammad Sahibus Saumiah,
14. Alwi ats-Tsani,
15. Ali Khali’ Qasam
16. Muhammad Shahib Mirbath
17. Alwi Ammi al-Faqih, 
18. Abdul Malik (Ahmad Khan), 
19. Abdullah (al-Azhamat) Khan
20. Ahmad Jalal Syah, 
21. Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar).

Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, beliau tercatat memiliki isteri 8 orang (pada tahun yang berbeda-beda), yaitu :

1. Amira Fathimah binti Amir Husain bin Muhammad Taraghay (Pendiri Dinasti Timuriyyah, Raja Uzbekistan, Samarkand), (Menikah tahun 1295 M),
 melahirkan 5 anak. yaitu:
1. Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandiy (Ibrahim Asmoro) saat berdakwah di Samarqand (yaitu antara tahun 1295M-1308 M),
 Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi lahir tahun 1297 M. kemudian lahir putra-putra yang lain yaitu:
2.  Pangeran Pebahar As-Samarqandiy / syeh maulana ishaq/ wali lanang 

(lahir di Samarkan 1300 M),
3. Fadhal As-Samarqandiy (Sunan Lembayung)juga di kenal 
(lahir di Samarqand tahun 1302 M),
4. Sunan Kramasari As-Samarqandiy (Sayyid Sembahan Dewa Agung)
 (lahir di Samarkand pada tahun 1305 M),
 5. Syekh Yusuf Shiddiq As-Samarqandiy (lahir di Samarkand pada tahun 1307 M), 


2. Puteri Nizamul Muluk bin Sultan Nizamul Muluk dari Delhi (India) (menikah tahun 1309 M), Pernikahan ini dilakukan saat Maulana Husain Jamaluddin kembali dari dakwahnya dari Samarkand ke India, dari isteri ini memiliki 3 anak yaitu:
1. Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M),
2. Maulana Muhammad 'Ali Akbar (lahir di Nasarabad, tahun 1312 M),
3. Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir, Lahir di Nasarabad India, tahun 1314 M),
 Syaikh Maulana Wali Islam (lahir di Nasarabad, tahun 1317 M)


3. Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Morocco) (Menikah tahun 1319 M), pernikahan ini dilakukan Husain Jamaluddin saat adanya hubungan diplomatik antara Kesultanan India dengan Kerajaan Marokko, dari pernikahan ini memiliki 1 anak yaitu:
1.  Maulana Muhammad Al-Maghribi (lahir di Maghrib (Morocco), tahun 1321 M)


4. Fathimah binti Hasan At-Turabi bin 'Ali bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam Al-Hadrami Al-Husaini (menikah tahun 1323 M) melahirkan seorang anak laki-laki bernama
1.  Maulana Ibrahim Al-Hadrami Azmatkhan (leluhur Azmatkhan di Yaman) lahir
 di Hadramaut pada tahun 1325 M.


5. Puteri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/ Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia)/ Raja Langka suka (menikah pada tahun 1350 M), melahirkan 1 anak, yaitu:

1. Puteri Siti Aisyah (Putri Ratna Kusuma) (lahir pada tahun 1351 M)
 yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid Al Idrus (Adipati Jepara)


6. Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin I Diraja Champa (Menikah tahun 1355 M) memiliki 1 anak laki-laki, yang diberi nama
1. Ibrahim Zainuddin Asghar Champa yang bergelar Sultan Zainal Abidin II
Diraja Champa (lahir di Champa, tahun 1357 M)


7. Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud, Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah tahun 1390M), melahirkan 2 anak. yaitu
1. Sayyid 'Ali Nurul Alam , (bergelar Maulana 'Abdul Malik Israil / Sultan Qanbul) alias Pateh Arya Gajah Mada.
 Perdana Mantri of Kelantan-Majapahit II menjabat antara 1432-1467 M (lahir pada tahun 1402 M) dan
2. Sayyid Muhammad Kebungsuan alias ( Prabhu Anum/Udaya ning-Rat/Bhra Wijaya)
lahir pada tahun 1410 M.


8. Puteri Jauhar binti Raja Johor Malaysia, menikah tahun 1399 M melahirkan 2 anak. yaitu

1. 'Abdul Malik 
 (lahir di Johor, 1404 M) 
2. Sultan Berkat Zainul Alam (lahir di Johor, tahun 1406 M)

Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan memiliki 17 anak dari 8 isteri, yaitu:
al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro  bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawulan binti Raja Kuntoro Cempa mempunyai dua orang anak :
1. Sayyid Ali Rohmatullah(Sunan Ampel)
2. Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandito)R. Santri

III. Maulana Iskhak bin Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Retno Kusumo binti Raja Mundiwangi Padjajaran mempunyai dua Orang anak :
1. Sayyid Abdullah Qadir atau disebut Sarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati)
2. Dewi Saroh (Istri Sunan Kalijogo)

IV. Maulana Iskhak bin Jumadil Kubro juga menikah dengan Dewi Sekardadu binti Prabu Minak Sembuyu Blambangan mempunyai seorang anak bernama
1. Raden Paku atau Sunan Giri

V. Sunan Aspadi Tidak diketahui karena berada di Kerajaan Rum.


VI. Sayyid Ali Rohmatulloh (Sunan Ampel) bin Sayyid Ibrahim bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawati binti Ariyotejo Adipati Tuban mempnyai lima orang anak :
1. Siti Sari’ah (Istri Haji Usman)Sunan Manyuran
2. Siti Muthmainnah (Istri Sayyid Muhsin)
3. Siti Khofsoh (Istri Sayyid Ahmad)
4. Sayyid Maqdum Ibrohim (Sunan Bonang)
5. Raden Qosim (Sunan Drajat)

VII. Sayyid Ali Rohmatulloh juga menikah dengan Dewi Karimah binti Bang Kuning, mempunyai dua orang anak :
1. Dewi Murtasimah (Istri Raden Patah)
2. Dewi Murtasiyah (Istri Sunan Giri)
VIII. Sayyid Ali Murtadho(Raja Padito) Raden Santri bin Sayyid Ibrohim Asmorokondi bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Maduretno binti Prabu Ariyo Bariben mempunyai tiga orang anak :
1. Haji Usman (Sunan Manyuran) Mandalika
2. Usman Haji Sunan Ngundung
3. Nyai Gede Tundo (Istri Sunan Kertoyoso)

IX. Sayyid Abdullah Qodir atau disebut Sarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) bin Maulana Iskhak bin Sayyid Jumadil Kubro Menikah dengan Dewi Haisah binti Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura mempunyai dua orang anak :
1. Raden Abdullah Jalil disebut Syeh Siti Jenar, tidak mau beristri
2. Dewi Sofiyah (istri Raden Qosim) S. Drajat

X. Sayyid Maqdum Ibrohim (S. Bonang) bin Raden Rahmat (S. Ampel) bin Sayyid Ibrohim bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Hiroh binti Raden Jekender (juga mertuanya Sarif Hidayatulloh) mempunyai seorang anak bernama
1. Dewi Rukhilah (istri Sunan Kudus)

XI. Raden Qosim (S. Drajat) bin Raden Rahmat bin Sayyid Ibrohim bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sofiyah binti Sunan Cirebon mempunyai tiga orang anak :
1. Pangeran Trenggono
2. Pangeran Sandi
3. Dewi Rouyan

XII. <span> </span>Haji Usman (Sunan Manyuran) bin Raja Pandito bin Sayyid Ibrohim Asmorokondi bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Siti Sariah binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama
1.  Amir Khasan

XIII. Usman Haji (Sunan Ngundung) bin Raja Pandito bin Sayyid Ibrohim Asmorokondi bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sari binti Temenggung Wilatikta mempunyai dua orang anak:
1. Dewi Sujinah (Istri Sunan Muria)
2. Amir Haji (Sayyid Ja’far Sodiq) Sunan Kudus

XIV. Dewi Murtasimah binti Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Asmorokondi bin Jumadil Kubro dinikah oleh Raden Patah bin Kertawijaya (Brawijaya) mempunyai lima orang anak :
1. Pangeran Purbo
2. Pangeran Trenggono
3. Raden Bagus Sedokali
4. Raden Kenduruhan
5. Dewi Ratih

XV. Nyai Gede Tundo binti Raja Pandito bin Sayyid Ibrahim Asmorokondi bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Khalifah Khusen (Sunan Kertoyoso) madura mempunyai seorang anak bernama
 Khilafah Sughro.

XVI. Siti Muthmainnah binti Sunan Ampel bin SAyiid Ibrohim Asmorokondi bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah Sayyid Muhsin (dari Yaman) beliau adalah murid Sunan Ampel atas perkawianannya mempunyai seorang anak bernama
 Amir Khamzah.

XVII. Siti Khofsoh binti Sunan Ampel bin Sayyid Ibrohim Asmorokondi bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah Sayyid Ahmad (Sunan Malaka) beliau adalah murid Sunan Ampel, atas perkawinannya beliau tidak mempunyai anak.

XVIII. Raden Paku (Sunan Giri) bin Maulana Ishak bin Sayyid Jumadil Kubro kelahiran Blambangan menikah dengan Dewi Murtasiyah binti Sunan Ampel mempunyai empat orang anak :
1. Raden Prabu
2. Raden Milyani
3. Raden Kuwo
4. Dewi Retnowati

XIX. Raden Sahid(Sunan Kalijogo) bin Raden Sahur Temenggung Wilatikta. Beliau adalah murid Sunan Ampel, menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Iskhak mempunyai tiga orang anak :
1. Raden Said (Sunan Muria)
2. Dewi Rukoiyah
3. Dewi Sofiyah

XX. Raden Said (Sunan Muria) bin Raden Sahid (Sunan Kalijogo) menikah dengan Dewi Sujinah binti Usman Haji(Sunan Ngundung) bin Raja Pandito bin Sayyid Ibrohim Asmorokondi bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang putra bernama

Pangeran Santri (Sunan Kadilangu)

XXI. Raden Amir Haji atau disebut Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) bin Usman Haji(Sunan Ngundung) bin Raja Pandito bin Sayyid Ibrohim Asmorokondi bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Rukhila binti Sayyid Maqdum Ibrohim (Sunan Bonang) bin Sunan Ampel bin Sayyid Ibrohim Asmorokondi bin Sayyid JUmadil Kubro mempunyai seorang anak bernama Radan
Amir Khasan.

XXII. Raden Sahur Tumenggung Wilatikta (Tuban) menikah dengan Dewi Nawang Arum binti Ki Ageng Tarup mempunyai dua orang anak :
1. Dewi Sari (istri Sunan Ngundung)
2. Raden Sahid (Sunan Kalijogo)

XXIII. Raden Jekender (Sunan Malaka) Madura menikah dengan Dewi Nawang Sari binti Ki Ageng Tarup mempunyai dua orang anak :
1. Dewi Hisah (Istri Sunan Gunung Jati)
2. Dewi Hiroh (Istri Sunan Bonang)

XXIV. Prabu Kartawijaya (Brawijaya I) mempunyai istri banyak dan anaknya juga banyak sekali, namun yang terkenal dari istri Cempa mempunyai tiga orang anak :
1. Prabu Hadi (Istri Adipati Doyoningrat)
2. Lembu Peteng Madura
3. Raden Kukur

Dari istri Ponorogo mempunyai anak :
4. Betorokatong (Ponorogo)
5. Ariyodamar (Adipati Palembang)

Dari istri Cempo yang lain mempunyai anak bernama : Raden Husen (Raden Patah) yang mendirikan kerajaan Islam di Demak.

Dari istri yang dari Bakilen mempunyai anak bernama Jaran Panoleh di Sampang Madura.






  

Pangeran Pebahar As-Samarqandiy (lahir di Samarkan 1300 M), 
Fadhal As-Samarqandiy (Sunan Lembayung) (lahir di Samarqand tahun 1302 M), 
Sunan Kramasari As-Samarqandiy (Sayyid Sembahan Dewa Agung) (lahir di Samarkand pada tahun 1305 M), 
Syekh Yusuf Shiddiq As-Samarqandiy (lahir di Samarkand pada tahun 1307 M), 
Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M), 
Maulana Muhammad 'Ali Akbar (lahir di Nasarabad, tahun 1312 M), 
Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir, Lahir di Nasarabad India, tahun 1314 M), 
Syaikh Maulana Wali Islam (lahir di Nasarabad, tahun 1317 M)
Maulana Muhammad Al-Maghribi (lahir di Maghrib (Morocco), tahun 1321 M)
Maulana Ibrahim Al-Hadrami Azmatkhan (leluhur Azmatkhan di Yaman) lahir di Hadramaut pada tahun 1325 M.
Puteri Siti Aisyah (Putri Ratna Kusuma) (lahir pada tahun 1351 M) yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid Al Idrus (Adipati Jepara)
Ibrahim Zainuddin Asghar Champa yang bergelar Sultan Zainal Abidin II Diraja Champa (lahir di Champa, tahun 1357 M)
Sayyid 'Ali Nurul Alam bin Husain Jamadi al-Kubra, (bergelar Maulana 'Abdul Malik Israil / Sultan Qanbul) alias Pateh Arya Gajah Mada. Perdana Mantri of Kelantan-Majapahit II menjabat antara 1432-1467 M (lahir pada tahun 1402 M) 
'Abdul Malik (lahir di Johor, 1404 M) d


Sultan Berkat Zainul Alam
    1. maulana malik ibrohim ..
     

Isteri Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri bernama:

1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama:
Maulana Moqfaroh dan
Syarifah Sarah dg 
Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] 

2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu:
 
 Sayyid  Abdullah,
  Sayyid  Ibrahim, 
 Sayyid  Abdul Ghafur, dan  Sayyid  Ahmad

3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu:

 
 Sayyid  Abbas    dan 
 Sayyid  Yusuf.

Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu

 Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan
 Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera
               Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan Kudus].


Sayyid Muhammad Kebungsuan alias (Prabhu Anum/Udaya ning-Rat/Bhra Wijaya) lahir pada tahun 1410 M.

"ALHAMDULILLAHIROBBIL'AALAMIIN""..

alfatihah menjelaskan prose pencipta'an alam semesta dan menjelaskan keberada'an 7 RUh pada diri manusia Ayat pertama ""ALHAMDULILLAHIROBBIL'AALAMIIN"".. Alhamdulillahirobbil'aalamiin""pada diri manusia duduknya di ubun2 dan ketika segala sesuatu belum ada dan blum ada dan blum di adakan maka yg ada hanya DZAT MAHA MUTLAK ALLAH. Yg disebut nama yg ke 100 {rahasia} yang pada diri manusia menjadi RUH. Qadim duduknya di ubun2 DZAT MAHA MUTLAK ALLAH ini berada di maqom AHADIYAH. Lalu memanang dirinya sendiri. Yg di sebut sholat lalu DZA MAHA MUTLAK ALLAH. Menciptakan mahkluk dari dirinya sendiri agar bisa di kenal. Sesuai yg di isaratkan dalam hadis Qudsi rasulullah saw bersabda.... """ adalah aku satu pembendahara'an yg ter sembumnyi maka AKU ingin supaya di ketahui siapa AKU maka aku jadikan mahkluk ~ku.. maka aku perkenalkan diri~ku kepada mereka{petugas allah} AYAT KEDUA. ARROHMAANIRROHIIM """ Arrohmanirrohiim..pada diri manusia dudknya di antara DUA MATA atau Diantara dua alis Dengan sifat maha pemurah dan maha penyayang nya terciptalah mahkluk yg pada diri manusia menjadi RUH RAHMATAN LIL ALAMIN duduknya di antara DUA MATA Aatau DIANTARA DUA ALIS Pada sa'at dzat maha mutlak allah memandang dirinya sendiri. Maka terbitlah cahaya. Yang di sebut WAHDA{tunggal} yg meliputi dirinya sendiri yang di sebut HAMIDUN atau NUR MUHAMMAD..sebagai mahkluk pertama yg di ciptakan sesuai yang di isaratkan dalam hadist. Di dalam kitab "kashf al~AL~khafa'wa Muzil al~llbas 'amman ishtahara min al~ahadith 'ala alsinatin~nas' Oleh al~aljuni {men.1162 hijrah} rasulullah saw bersabda»»»»""" yang pertama kali dijadikan oleh allah ialah nur nabi engkau jabir"" .. diriwayatkan oleh Abd al Razzaq dengan sanadnya dari jabir bin'Abd allah dengan lafaz="""katanya aku berkata =wahai rasulullah,kedua orang tua hamba menjadi tebusan' beri tahu kpda hamba tentang perkara terawal yg dijadikan allah sebelum segala sesuatu ..jawab baginda= Wahai jabir, sesungguhnya allah jadikan sebelum segala sesuatu nur nabi engkau. Dari nur nya Hadist= Diriwayatkan dari abdurrazaq ra. Yg di terima dari jabir ra. Bahwa jabir pernah bertanya kepada rasulullah saw"""ya...rasulullah..beritahukanlah kepadaku apakah yg mula2 sekali allah jadikan ?? Rasulullah menjawab"""" sesungguhnya allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah nur nabimu dari nur nya AYAT KETIGA , MAA LIKI YAU MIDDIN.. Maa liki yau middiin. Pada diri manusia duduknya di TENGGOROKAN dan menjadi RUH rabbani duduknya di. TENGGOROKAN.. Dzat maha mutlak allah dengan kebesaran nya{ sifat jalal } kluar dari NUR MUHAMMAD sehingga konsep TUHAN dan HAMBA terbentuk karna tidak bisa disebut TUHAN jika tidak ada hambanya begitu juga sebaliknya... sebagai mana yg disaratkan dalam sebuah hadist Qudsi ALLAH berfirman..."""""engkau adalah hamba~ku engkau hidup dengan~KU karena aku meniupkan dengan RUH KU dankepada ~KU. Engkau kembali , AKU ciptakan engkau supaya jadi tatapan pandangan~KU. Dan engkau jadi penghuni dari isim~KU aku sujudkan engkau pada~ku. Aku tuturkan engkau dengan kalam~ku. Dan aku bentukkan engkau supaya berhimpun dengan hadiratKU"" AYAT KE EMPAT. Iyyaaka na budu wa iyyaaka nas ta 'in ""Pada diri manusia duduknya di DADA DIANTARA DUA PUTING. Dan menjadi RUH IDHOFI.. Setelah berpisah lalu. DZAT MAHA MUTLAK ALLAH. Dengan sifat keindahannya {sifat jamal } menyatu kembali dengan HAMIDUN atau NUR MUHAMMAD maka yg trjadi adalah DZAT MAHA MUTLAK ALLAH hilang dan menjadi AHMADUN karna sudah menyatu dengan NUR MUHAMMAD tanpa ada jarak. Pada tahapan inilah nurmuhammad mnjadi RAHASIA karna yg sebenar benarnya NUR MUHAMMAD. TIADA LAIN ADALAH Zdat MAHA MUTLAK ALLAH..hilang dan menjadi AHMADUN karna sudah menyatu dengan nur muhammad..tanpa ada jarak AYAT. KELIMA..Ihdinashirootol Mustakiqiim """Pada diri manusia duduknya PUSAT. Dan menjadi RUH RUHUL QUDUS. Selanjutnya dengan sifat kekerasan allah { sifat Qohar } selama 70 000 tahun AHMADUN bermusahadah { memandang dirinya sendiri } dan memancarkan NUR yg memancar kesetiap arah yg selanjutnya menjadi RUH alam semesta di antaranya menjadi ruh bagi manusia.. Lalu. RUH alam semesta. Mengitari AHMADUN selama 70 000 tahun selanjutnya di sebut MUHAMMADUN AYAT KEENAM""shirootolladzina an 'amta alaihim..... """" pada diri manusia duduknya di antara PUSAT dan KELAMIN. Dan menjadi RUH RUHANi. RUH alam semesta. Dengan sifat kesempurna'An allah{ sifat kamal} di pandang dengan tajam oleh AHMADUN yg selanjutnya ILMU di ALAM SEMESTA dan menjadi BATANG TUBUH pada manusia yg di sebut ADAM AYAT KETUJUH .."Ghoiril Maghdu bi'alaihim waladhoo~liin.. """Pada diri manusia. Duduknya di TULANG EKOR dan menjadi RUH JASMANI yg marupakan kesatuan. Dari RUH HEWANI dan NABATI RUH alam semesta menjadi ILMU dan karna ILMU maka segala bentuk keberada'AN di alam semesta ini dapat terwujud termksut proses terjadinya BINTANG BINTANG atau TATA SURYA. Dan semua jenis wujud kebendaan atau barang yang di ciptakan oleh manusia dengan ILMU pengetahuan dan tehknologi' jadi allah swt pada alam semesta ini adalah ILMU yg pada hakekatnya ILMU adalah NUR MUHAMMAD yg mnjadi rahasia di alam semesta... 

Kamis, 19 Desember 2013

murid 2 Kyai Kholil bangkalan

 Berikut ini sebagian murid Kiyai 

Kholil yang mudah dikenal saat ini: 

  1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional. 
  2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri. 
  3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971). 
  4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang. 
  5. KH. Maksum: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah 
  6. KH. Bisri Mustofa: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon. 
  7. KH. Muhammad Siddiq: Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember. 
  8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia. 
  9. KH. Zaini Mun’im: Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah. 
  10. KH. Abdullah Mubarok: Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis. 
  11. KH. Asy’ari: Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso. 
  12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep. 
  13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf. 
  14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan. 
  15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan 
  16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep. 
  17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso. 
  18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. 
  19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. 
  20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo. 
  21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat. 
  22. KH. Abdul Hadi : Lamongan. 
  23. KH. Zainudin : Nganjuk 
  24. KH. Maksum : Lasem 
  25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung 
  26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo. 
  27. KH. Munajad : Kertosono 
  28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang 
  29. KH. Muhammad Anwar: Pacul Bawang, Jombang 
  30. KH. Abdul Madjid: Bata-bata, Pamekasan, Madura 
  31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi 
  32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura. 
  33. KH. Zainur Rasyid: Kironggo, Bondowoso 
  34. KH. Hasan Mustofa: Garut Jawa Barat 
  35. KH. Raden Fakih Maskumambang: Gresik 
  36. KH. Sayyid Ali Bafaqih: Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali. 

Masuknya Islam Di Pekalongan

Masuknya Islam Di Pekalongan

Pekalongan dan Batang merupakan kesatuan baik dalam arti kesatuan geografi maupun dalam proses pertumbuhan. Dalam menyelusuri proses Penyebaran Islam yang terjadi di Pekalongan kita harus lebih dulu menyimak proses penyebarannya. Karena dari geografi sejarah Islam, proses kedatangan Islam di Jawa sangat penting bertalian dengan pelaku yang terdiri dari nama-nama tokoh ulama yang pernah berperan membangun kerajaan Islam Demak di Jawa. 
Tokoh ulama Islam yang hidup semasa Demak sangat mempengaruhi proses pengembangan Islam baik di wilayah Sunda maupun Jawa Tengah pantai. Melalui penelitian arkeologi Islam, Penyebaran Islam atau kedatangan Islam di Pekalongan dimulai dari daerah yang masyarakatnya sudah menganut agama Islam. Pekalongan adalah kota pelabuhan yang penduduknya sejak abad XIV sudah ada yang memeluk agama Islam. Ketika daerah tersebut mulai menjadi kota tentu saja perkembangannya akan mempengaruhi daerah terdekatnya. Dengan demikian proses penyebaran Islam yang terjadi di Pekalongan dengan sendirinya akan terjadi juga di Pekalongan. 
Penyebaran Islam yang terjadi di Pekalongan terdiri tiga fase. Fase pertama berlangsung abad ke XIV dan XV berkaitan dengan adanya pertumbuhan penduduk asing seperti Cina dan Arab yang pada periode awal telah membangun pemukiman menjadi kota. Kemudian pada fase kedua terjadi pada abad XV hingga XVII M berkaitan dengan penyebaran Islam di Jawa yang dilakukan oleh para wali sembilan (wali songo). Bersamaan dibangunnya Kerajaan Islam Demak dan Cirebon penyebaran Islam baik di kota-kota pantai dan pedalaman telah berlangsung secara bertahap. Pada fase ketiga terjadi pada periode abad XVII sampai XVIII M. Pada fase ketiga ini merupakan periode gelombang kedua dari para penyebar agama Islam orang asing yang di Pekalongan digerakkan oleh ulama-ulama Hadramaut dan para ulama pribumi yang disebut sebagai ulama Alawiyin dan ulama dari pondok pesantren. Sepanjang sejarahnya ulama-ulama tersebut memiliki peran besar dalam gerakan Penyebaran Islam di dunia.
Makam dan nisan Islam pada periode penyebaran Islam abad XVII di Pekalongan berlangsung semasa Mataram Islam dan Kolonial terjadi di Pekalongan. Prasasti nisan yang tertulis pada makam para sayid (syekh) di beberapa tempat terdapat pemakaman para bupati Pekalongan di Paskaran dan makam Jayengrono di Wiradesa. Juga yang terjadi di Sapura Pekalongan, telah menunjukkan bahwa nisan-nisan tersebut memuat angka tahun yang sama sekitar abad XVII dan XVII M. Nama-nama makam Islam yang berada di Pekalongan di antaranya Syekh Magribi (Syekh Wonobodro), Syekh Jambukarang, Syekh Subakir, Syekh Tolabuddin, Syekh Majaagung, Syekh Merang Abang, Syekh Lemah Abang, dan lain-lain. nama-nama tersebut mengingatkan nama sejumlah wali yang mendirikan kerajaan Islam Demak. Setidak-tidaknya keberadaannya sebagai tokoh ulama, pernah tercatat dalam proses Penyebaran Islam yang terjadi di Jawa. Para syekh tersebut umumnya tidak memiliki informasi tertulis yang dapat dijadikan sumber sejarah, sehingga sangat sulit untuk diketahui identitasnya secara jelas. Sulitnya untuk mengetahui identitas tokoh-tokoh ulama penyebar Islam yang berhubungan dengan nisan-nisan Islam pada umumnya nisan Islam pada periode abad ke XV sampai XVI tidak memiliki angka tahun. Oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran dan catatan di dalamnya akan kita bicarakan dalam bab Pengaruh Sastra dan Keagamaan di Jawa Tengah.

Keberadaan Makam Para Sayid di Pekalongan

Petunjuk adanya kegiatan dalam rangka Penyebaran Islam di Pekalongan dapat diketahui adanya makam-makam Islam dari kelompok makam para habaib yang terdapat di beberapa tempat seperti di Wiradesa, kota Pekalongan, dan kabupaten Pekalongan. Nisan-nisan makam Islam pertama yang menunjuk adanya para sayid ahlulbait di wilayah Pekalongan dan Pekalongan terdapat di komplek pemakaman Jayengrono di Wiradesa. Meskipun tak semua nisan makamnya memuat angka tahun namun pada hiasan yang terpahat pada batu nisan yang berisi ayat suci al-Qur’an memiliki persamaan dengan nisan makam al-Qodi Zakaria, yang terdapat di komplek pemakaman para bupati di Astana Pasekaran Pekalongan.
Diketahui bahwa al-Qodi Zakaria adalah ayah dari Mu’minah binti Zakaria al-Qodi yang nisannya berangka tahun 1822 H yang dikebumikan di pemakaman para sayid alawiyin di desa Ketinggring Wonosobo. Pada makam Mu’minah yang jelas-jelas berasal dari Batang dapat diketahui karena pada kaki nisannya tertulis “baldatun Batang” yang artinya dari negeri (daerah) Pekalongan. 
Di Wiradesa nisan yang memiliki hiasan lainnya adalah nisan makam Kyai Faqih atau Sayid Faqih. Nisan yang dibuat dari bahan kayu tersebut terdapat ukiran yang bergambar lingkaran roda berjari-jari yang menyerupai bulatan dengan garis sinar matahari. Gambar tersebut memiliki persamaan dengan nisan makam Qodi Zakaria yang berbahan batu pahatan. Lukisan pada nisan Islam tersebut juga terdapat di Sumatera (Pasai) terdapat pada makam Sayid Amir Syarif Syirazi seorang hakim (Qodi) di kerajaan Islam Pasai pada tahun 1326 semasa Pasai di bawah kekuasaan Sultan Maliku Zahir. 
Lukisan roda berjari-jari oleh Islam merupakan simbol bagi seorang ahli hukum Islam dan berperan sebagai lambang keadilan. Di Jawa simbol matahari memiliki arti sebagai jalan terang. Sayangnya nisan-nisan Islam yang memuat tanda-tanda baik hiasan maupun prasasti sangat sedikit. Sehingga data-data secara tertulis yang diharapkan merupakan sumber utama dalam penelusuran sejarah sangat sulit didapatkan. Namun demikian di dalam menelusuri sejarah Penyebaran Islam di Pekalongan selain nisan dapat juga di peroleh dari naskah-naskah atau kronik-kronik tempatan yang berisi riwayat (silsilah) meskipun merupakan suatu sumber data bantu akan tetapi dapat mendukung mencari titik terang di dalam penulisan sejarah Islam.
Sumber-sumber Islam tak tertulis di Pekalongan yang menempatkan kehadiran tokoh-tokoh ulama Islam yang paling menonjol adalah makan para abaib (para sayid) yang terdapat di Sapuro yang terletak di tepi sungai Loji (sungai Kupang) desa Sapuro, Pekalongan. Pemakaman Sapuro merupakan pusat pemakaman bagi warga masyarakat Pekalongan yang hampir digunakan sebagai makam umum. Pada tahun 1868 J.F.G. Brummund di dalam “bijdraagen tut de kennis van Het Hinduisn van java” telah menguraikan hasil temuan yang ada di Pekalongan pada masa Hindu budha. Salah satu fragmen berupa yoni dan arca telah ditemukan di desa Sapuro yang berdekatan dengan sungai Loji (sungai Kupang). Bersamaan dengan temuan-temuan lainnya yang ada di sepanjang sungai tersebut sejak dari muara sampai hulu terdapat artefak-artefak yang disinyalir sebagai salah satu peninggalan bekas bangunan suci Hindu dan budha. Tempat-tempat sepanjang sungai tersebut antara lain di Warung Asem, Talun, Petungkriono, sampai Wonotunggal kabupaten Batang. Artefak tersebut sekarang masih tersimpan di gedung eks rumah residen Pekalongan. Menurut Brummund di tempat adanya temuan peninggalan Hindu Jawa di Pekalongan merupakan data sekunder di dalam penelusuran sejarah klasik Jawa bagian utara yang mana di dalamnya banyak belum terungkap kesemuanya. 
Sesuai dengan nama Sapuro diperkirakan di tempat yang sekarang dijadikan pemakaman Islam dahulu kala mungkin terdapat bangunan pura. Ketika lahan tersebut dijadikan tempat pemakaman Islam nama Sapuro berubah menjadi Gapuro. Dalam arti lain boleh jadi bermakna Ghafuro (bahasa Arab) yang artinya ampunan. Di pemakaman Sapuro terdapat komplek pemakaman para sayid alawi Hadramaut yang pernah pindah ke Asia Tenggara pada abad XVII M. Kelompok makam para sayid tersebut tidak kita temukan prasasti yang menyangkut nama atau yang memiliki tanda-tanda lainnya seperti nisan-nisan para sayid yang berada di luar Pekalongan. Namun dari kelompok para sayid alawiyin yang dimakamkan pada umumnya berasal dari berbagai marga. Misalnya al-Yahya (bin Aqil), al-Atas, al-Jufri, al-Idrus, dan lain-lain. Masing-masing kelompok telah dipelihara dengan baik oleh keluarga keturunannya dan keterangan tentang nama-nama yang tertulis pada nisan telah dikaitkan pada nasabnya (silsilah keluarga). Yang oleh para ahlulbait penulisan silsilah ini sudah menjadi tradisi yang dilakukan sejak awal.
Saat kedatangan para sayid alawiyin di Pekalongan pada kurun abad XVII bukan berarti masyarakat Pekalongan belum Islam sebab satu abad jauh sebelumnya sebagian masyarakat Pekalongan sudah memeluk agama Islam. Ini dapat dilihat melalui petunjuk dari makam Islam yang lain seperti makam Syekh Maghribi dan Pangeran Pekalongan yang berada di komplek pemakaman Wonobodro, Blado kabupaten Pekalongan serta makam seorang muslimat dari keluarga para habaib bernama Syarifah Ambariyah di Kecamatan Bojong kabupaten Pekalongan.
Meskipun nisan makamnya tidak berangka tahun akan tetapi oleh masyarakat makam Syekh Wonobodro (Syekh Maghribi) dan Pangeran Pekalongan sebagai situs yang tertua. Situs pemakaman Syekh Maghribi dan Pangeran Pekalongan berada di daerah pegunungan wilayah kecamatan Blado, mendekati jalan lama yang merupakan jalan penghubung antara wilayah Pekalongan dan Bandar serta Limpung dan Bawang sampai Dieng Wonosobo dan Temanggung di selatan.
Pada situs makam kedua ulama tersebut terdapat nama Syekh dan Pangeran . Selain itu tidak lagi tanda-tanda yang bisa memberikan informasi atau keterangan secara jelas siapa dan tahun berapa kira-kira beliau itu hidup. Nisan kedua makam tokoh ulama Islam itu nampaknya sudah beberapa kali diganti sehingga nisan tersebut dapat dikatakan nisan baru. Nisan Syekh Maghribi dibuat dari kayu sangat sederhana dan nisan Pangeran Pekalongan dibuat dengan pahatan marmet tanpa prasasti. Dibanding dengan nisan makam yang lain di luar situs inti (kedua makam) masih ada tanda-tanda nisan asli yang nampak variatif. Sebagian dibuat dari batu menhir (batu tegak) dan adapula yang sudah dipahat. Salah satu nisan batu berornamen kita dapatkan di antara dua situs antara situs makam Syekh Maghribi dengan situs Pangeran Pekalongan. Nisan tersebut tanpa tahun dan tanpa nama, akan tetapi berhiaskan pahatan berbentuk Sidomukti (salah satu ragam hias batik yang berbentuk sayap burung). Ragam hias sidomukti pada nisan, juga kita temukan di komplek Sapuro di Pekalongan dan pemakaman di Astana Pasekaran. Dari kedua makam tokoh ulama para sayid tersebut yang harus ditengarai adalah nama (sebutan Syekh Maghribi) yang memiliki indikasi sebagai seorang syekh (ulama asing) yang umumnya merupakan sebutan para sayid hadramaut. Para sayid hadramaut yang umumnya berasal dari Maghribi (wilayah tenggelamnya matahari) seperti Arab, Persi, Gujarat atau wilayah asia kecil Uzbekistan maupun dari Sumatera. Maulana Malik Ibrahim Kasani yang meninggal tahun 1419 di Gresik juga disebut Syekh Maghribi. 
Pada masa lalu masyarakat Jawa menyebut nama para ulama asing dari belahan barat sering tidak komunikatif karena nama tersebut mengandung lafadz yang sulit diterima oleh lidah Jawa. Untuk memudahkan menyebut nama aslinya biasanya diganti dengan sebutan di mana mereka tinggal. Syekh Magribi mendapat sebutan Syekh Wonobodro di mana tempat ia dimakamkan. Demikian pula Pangeran Pekalongan. Sebutan Pangeran di Jawa merupakan gelar keningratan yang umumnya sebagai putra raja. Sementara di Pekalongan pada abad XIV M tidak ada kerajaan Islam. Boleh jadi nama pangeran digunakan untuk menandai bahwa Pangeran Pekalongan adalah seorang ulama pribumi dari Pekalongan yang mungkin memiliki darah ningrat. 
Pada komplek makam Pangeran Pekalongan berada di suatu area di sebelah timur komplek makam Syekh Maghribi. Menurut keterangan juru kunci makam tanah di atas makam Pangeran Pekalongan sejak dahulu merupakan tanah perdikan. Sebaliknya riwayat tanah yang dijadikan komplek makam Syekh Maghribi tidak disebutkan. Lalu kapan kira-kira Syekh Maghribi dimakamkan di Wonobodro .
Temuan arkeologi terhadap artefak berupa alat-alat kubur termasuk nisan pada makam Islam di Pekalongan merupakan tinggalan ekofak yang mengacu pada benda-benda yang terdapat di lingkungan situs pemakaman. Benda-benda tersebut secara arkeologis dapat memberi petunjuk untuk mendapatkan informasi tentang keberadaannya. Di situs Wonobodro tidak jauh dari makam Syekh Mahgribi kita temukan sebuah pohon besar berdiameter 8 meter yang sudah usang tapi tetap bertahan hidup. Pohon tersebut tentu mempunyai kaitan dengan situs makam. Di dalam sistem pemakaman Islam penanaman suatu pohon di samping nisan juga merupakan tanda (tetenger). Pohon besar tersebut oleh masyarakat di lingkungan makam disebut pohon Jelamprang karena memiliki penampakan urat-urat kayu yang sudah tua dan garis-garisnya amat menonjol. Secara anatomei melalui lingkaran dari lapisan kayu dapat diprediksikan bahwa pohon tersebut diperkirakan berusia 600 tahun. Bilamana dikaitkan dengan makam Syekh Wonobodro (Syekh Maghribi) yang berada tidak jauh dari kompleks makam, pohon tersebut diperkirakan hidup sejaman. 
Dengan melalui analisa ekofak dari lingkaran anatomi pohon tersebut bila dikonversikan dengan masa wafatnya Syekh Maghribi diperkirakan ulama asing yang disebut Syekh Maghribi di Wonobodro hidup sekitar abad XIV – XV M sejaman dengan masa Syekh Mahgribi di Gresik Jawa Timur dan para wali songo. Makam Pangeran Pekalongan terletak di tanah perdikan. Status tanah perdikan di Pekalongan ditetapkan oleh raja Mataram Islam sejak Sultan Agung menguasai pesisir Kilen. Tak dapat diketahui kapan Pangeran Pekalongan meninggal dan dimakamkan di Wonobodro berdekatan dengan Syekh Maghribi. Bila melihat jarak (kurun waktu) antara kedua makam tersebut, keduanya hidup tidak sejaman. Melihat status tanah yang digunakan sebagai tanah perdikan Pangeran Pekalongan diperkirakan hidup sejaman dengan masa Mataram Islam Yogyakarta yang menetapkan status tanah wilayah utara yang dahulunya sebagai wilayah Cirebon telah berubah menjadi tanah perdikan . 
Dengan keberadaan makam-makam Islam yang dicurigai memiliki arti kesejarahan maka dalam proses Penyebaran Islam sejak kedatangan Islam di Pekalongan sampai pengembangannya dapat memberi petunjuk bahwa Penyebaran Islam di Pekalongan dilakukan oleh para sayid Hadramaut. Adapun fase-fase penyebarannya, Syekh Maghribi (Syekh Wonobodro) termasuk ahlul bait yang datang pada gelombang pertama dan merupakan ulama sufi yang bermahzab Suni Syafi’I (Sunah waljama’ah) yang dalam gerakan Penyebaran Islam di Jawa berperan besar mengislamkan masyarakat jawa yang masih kental menganut tradisi Hindu budha yang pernah berkuasa di Pekalongan pedalaman.
Di Pekalongan selain nama Syekh Maghribi (Syekh Wonobodro) terdapat makam para syekh yang menggunakan nama wali penyebar agama Islam pada abad ke XV baik di Jawa Timur maupun Jawa Tengah. Nama-nama yang dikenakan pada makam Islam di Pekalongan umumnya tidak berprasasti. Ada juga mengambil dari nama-nama tokoh ulama atau wali yang sudah tertulis pada naskah-naskah keraton seperti halnya kronik-kronik babad tanah jawi (BTJ), Kitab Skondar, maupun Kitab Centini.



Tasawuf dan Kesusastraan dalam Islamisasi di Pekalongan

Tradisi para ulama yang dalam sejarah pengembangan Islam telah menciptakan dan memiliki norma-norma budaya pengajaran (pengembangan kaidah-kaidah yang bersifat filosofis yang disebut ilmu Tasawuf). Istana kerajaan Melayu Samudra Pasai dan Malaka telah memberikan sumbangan yang tidak sedikit terhadap pola pengembangan Islam di Jawa yang dikembangkan oleh para wali pada abad ke XV dalam rangka pembangunan moral. Hasil dari kesusastraan yang menempatkan pandangan dan keberadaan Tuhan serta pengamalannya pada pandangan-pandangan pokok tentang mazhab dari tradisi yang berkembang, telah menjadi kesepakatan bagi para ulama penyebar agama Islam dari empat mazhab. Mereka terdiri dari para imam besar agama Islam pada abad ke X, seperti Imam Syafi’i, Hanafi, Hambali dan Maliki.
Ibnu Batutoh ketika singgah di Pasai pada tahun 1336 mengetahui bahwa ulama dan kerajaan telah menganut mazhab Syafi’i. Oleh karena itu mazhab Imam Syafi’i yang mungkin dibawa oleh para ulama yang disebut ulama Suni juga merupakan mazhab terbesar yang dianut oleh para ulama (wali) di Jawa pada tahun 1527 M. Perbedaan ini akibat dari pandangan ahli hukum dalam melaksanakan hukum Islam yang disebut syariah. Di dalam syariah menyebut hukum pokok adalah al-Qur’an dan Hadist Nabi. Hal ini tidak diragukan tapi dalam pengembangan kemudian diperlukan perluasan dengan kias yakni analogi kemudian diperlukan ijma’ (kesepakatan musyawarah) dan rai (pendapat pribadi atau umum). Dari masalah hukum tersebut timbullah aliran-aliran sesuai dengan pendapat empat imam. Aliran Syafi’i promotornya adalah al-Syafi’i guru besar dalam hukum Islam di Bagdad dan Kairo meninggal tahun 820. Alirannya menekankan ijma’ karena ijma’ merupakan jalan yang paling aman dan memiliki otoritas tinggi. Aliran kedua adalah Hanafi, promotornya Abu Hanifah guru besar dalam ilmu hukum di Kufah Bagdad. Aliran ini dianut di wilayah Asia Tengah dan berbagai tempat di India. Kemudian aliran Hambali, promotornya Ahmad Ibnu Hambal, seorang murid dari al-Syafi’i yang meninggal di Baghdad pada tahun 815, ajarannya menolak ajaran kias dan rai. Ajaran Hambali terlalu membenci penerapan ijma’. Aliran ini berkembang di Turki pada abad ke VIII dihidupkan kembali oleh kelompok Wahabi di Saudi Arabia Tengah. Dan terakhir adalah aliran Maliki yang dipromotori oleh Imam Malik.
Dalam penyebaran Islam di Indonesia aliran yang menempatkan mazhab di kalangan ulama telah mempengaruhi budaya dan sistem peribadatan yang dikembangkan oleh masing-masing penganutnya. Pada abad ke IV H (11 M) Kusaer dan Imam Abu Hamid Muhammad Ghazali secara sempurna mengembangkan tasawuf sebagai cabang ilmu. Para ulama penyebar Islam di Pasai dan Malaka di samping mengembangkan mazhab suni yang juga aliran Syafi’i merupakan golongan ahli tasawuf. Di dunia Islam lahir berbagai kelompok tarikat yang semuanya bersumber pada ajaran al-Qur’an. Setiap tarikat memiliki cara khusus dalam cara berdzikir kepada Allah SWT. Tarikat (torikoh) adalah jalan atau metode untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam struktur pelaksanaan tarikat tidak hanya satu macam sehingga dapat dikatakan sebagai mazhab dalam tasawuf. Tarikat yang dibawakan oleh ulama hadramaut adalah tarikat yang disebut “alawi”. Tarikat alawi tarikat yang didirikan oleh sebagian besar sayid di Yaman selatan terbagi atas dua bagian, bagian batiniah dan jahiriah. Kebanyakan sufi tarikat memiliki karomah dan mendapat julukan seperti Syekh, Sayid, Naqib dan Qutub.
Karya-karya klasik Islam dalam sastra melahirkan karya-karya tasawuf. Pada abad XVII di Sumatera ada tiga orang ulama yaitu Hamzah Fansuri (meninggal 1590 M), Syamsudin dari Pasai (meninggal pada tahun 1630 M), Abdul Rauf dari Sinkel (1617 M) dan Nurudin Aranaeri dari Gujarat telah menulis tentang tasawuf Islam. Semua pengarang tasawuf tersebut mempunyai dasar yang sama khususnya Abdul Rauf, Syamsudin dan Aranaeri, semuanya menerapkan doktrin tasawuf tentang tujuh tahapan (martabat tujuh) yang di dalamnya menyebutkan Tuhan mewujudkan diri di dunia yang fana ini yang mencapai pemecahannya pada manusia sempurna (insan kamil). Doktrin ini diajarkan secara luas ke seluruh Indonesia. Apa yang dibicarakan di sini Tuhan turut terlibat kemajemukan dunia fana, dan bahwa roh manusia sedikit banyak merupakan bagian dari Tuhan. Dalam hal ini maka doktrin tersebut melanggar dasar keyakinan Islam yang meskipun Tuhan menciptakan dunia Ia tidak dimasukkan dalam diri manusia.
Kesusastraan Melayu pada abad ke XVI dan XVII merupakan karya tasawuf yang telah mempengaruhi perkembangan tasawuf Indonesia. Karya Hamzah Fansuri seperti Syaraf al-Asysyikin (minuman para kekasih), dan Asrar al-Arifin (rahasia para ginostik) telah mendapatkan tempat pada pemerintahan masa Iskandar Muda tahun 1607. Karya Samsudin yang berjudul Nur Atdakoiq (cahaya pada kehalusan-kehalusan) suatu karya dari tradisi Islam yang dianggap klenik. Pada masa itu ajarannya yang disebut klenik. Wahdatul wujud oleh para wali dilakukan oleh Syekh Siti Jenar berdasarkan wahdatul wujud dari Ibnu Arabi dan al-Halaj.
Dalam ilmu tasawud Hamzah Fansuri dan Samsudin Sumatrani terdapat ajaran :
1. Manifestasi Allah SWT pada wujud manusia dan alam.
2. Adanya perbedaan antara syariat dan tasawuf (ilmu hakikat)
Kronik-kronik merupakan gaya kesusastraan Melayu. Kitab-kitab seperti Hiakyat Aceh (kisah tentang Aceh) telah ditulis pada masa Iskandar Muda. Ada juga kronik yang berbahasa lain yang menceritakan negara di luar Aceh. Pemikiran Ibnu Arabi, al-Halaj, Abdul Karim al-Jili, al-Farabi, Imam al-Ghazali, dan Imam Ahmad al-Ghazali sangat menonjol di kalangan tasawuf Indonesia. Pengaruh yang mendasar adalah kitab Ihya Ulumudin dari Imam al-Ghazali yang sangat mempengaruhi para sufi melayu. Doktrin tasawuf yang berasal dari ajaran derajat tujuh Nur Muhammad dan Wahdatul Wujud sangat menarik bagi masyarakat Jawa terutama bagi perkembangan sastra klasik di Jawa. Abdul Rauf as-Sinkeli adalah orang pertama yang memperkenalkan tarikat satariyah di tanah Melayu. Dia memiliki hubungan dengan tarikat naqsabandiyah dan tarikat qodariyah. Syekh Yusuf al-Makasari (1627 – 1699 M) yang ikut bersama dengan Ki Ageng Tirtayasan di Kesultanan Banten dalam melawan Belanda, adalah orang pertama yang memperkenalkan tarikat naqsabandiyah dan chalwatiyah di tanah Melayu. Syekh Yusuf dalam pemikirannya melalui tasawuf sangat menekankan kemurnian tauhid dari segala bentuk syirik. Ia berkata tasawuf diperuntukkan bagi orang yang berilmu dan bukan bagi semua orang.
Pada abad VII di Indonesia ilmu tasawuf hampir merata dibawa para sayid dan ulama penyebar agama Islam. Dalam kaitannya dengan perjuangan untuk melenyapkan penjajahan Belanda (VOC) dan juga kepada para raja-raja Islam di Jawa dan Melayu yang banyak dipengaruhi oleh politik Belanda, mereka telah mengadakan gerakan-gerakan perjuangan yang bertujuan untuk menegakkan keadilan menurut ajaran Islam. Tokoh-tokoh seperti Syihabuddin Abdullah di Malaya, Kemas Fakhruddin, Abulsamat al-Palimbani yang bermukim di Mekah telah mempunyai peran penting dalam mengorganisasikan umat Islam di Indonesia melalui ulama-ulama untuk mengadakan gerakan anti Belanda dan mempengaruhi kerajaan Jawa untuk memusuhi Belanda. Kemudian Nafis al-Banjari dari Kalimantan, Abdul Wahi dari Bugis, Abdulrahman dari Betawi, al-Misri dari Jakarta, Nawawi al-Bantani dari Banten, mereka sangat besar peranannya dalam pengembangan tasawuf Islam.
Dalam pengembangan Islam di Pekalongan pada abad XVII yang dibawakan oleh para sayid dapat disimpulkan bahwa mereka sebagai penerus para ulama terdahulu yang membawakan ajaran Islam bermahzab Syafi’i dan membawa pengajaran tasawuf yang bermahzab alawi. Leluhur mereka berasal dari Hadramaut kemudian hijrah ke Sumatera (Perlak dan Samudera Pasai) sejak abad XIII. Penyebarannya kemudian sampai ke Malaka dan Jawa pada abad XIV sampai XVI dan XVII M. Hijrahnya para sayid Hadramaut ke Asia Tenggara antara abad XVII hingga XX terjadi beberapa tahap atau gelombang. Pada abad XVII ajaran yang dibawa para sayid dipelopori oleh Sayid Muhammad, sayid di Pekalongan. Rombongan para sayid bermarga Alawiyin bin Yahya telah mendiami pusat kota. Para sayid ini di samping mendirikan kholaqoh dan masjid juga melakukan usaha perdagangan. Di Pekalongan bermacam-macam jenis perdagangan seperti batik, mebel atau furnitur dan juga barang pecah dilakukan oleh para sayid di sekitar kampung Arab pusat kota. Di dalam khasanah ajaran Islam para sufi Hadramaut berasal dari keturunan Ali Qosim bin Basra yaitu cucu ketiga dari Imam Husein. Ahmad bin Isa yang dianggap sebagai pemimpin terpenting dari sayid Hadramaut (870 – 892 M) telah pindah dari Irak ke Hadramaut Yaman. Ahmad bin Isa disebut juga sebagai Muhajar Ilahi (yang berhijrah kepada Allah) bersama pengikutnya beliau mengembangkan mazhab Suni Syafi’i. Dua abad kemudian pada tahun 521 H (1127 M) keturunan dari Ahmad bin Isa dengan dipimpin Ali bin Alawi al-Qosim hijarah ke daerah Tarum di selatan Hadramaut. Di Tarum yang dikenal sebagai pusat ilmu para sayid alawi Hadramaut sangat dimuliakan. Para sayid ini meyakini dirinya dari keluarga Rasulullah dan anak keturunan Imam Husein yang pada abad ke XIII telah hijrah ke Jawa, Sumatera dan Indonesia. Mereka di samping ahli agama juga ahli tasawuf.
Di Pekalongan para sayid Alawiyyin yang dipelopori oleh Sayid Ahmad telah mendirikan masjid di kampung arab. Pada generasi berikutnya dilanjutkan oleh Sayid Ali. Kemudian setelah Sayid Ali menurunkannya sampai Sayid Ahmad. Keturunan dari Aqil bin Yahya adalah Habib Bakir dan Habib Luthfi. Mereka masing-masing mengembangkan tasawuf alawiyin dan naqsabandiyah.

Pengembangan dan Pendidikkan Islam di Pekalongan

Pada periode pra kemerdekaan abad XVIII - XX setelah ulama ikut perjuangan Diponegoro tahun 1830 dalam perang Jawa, selain ada yang pindah dari Pekalongan pindah ke daerah lain, seperti kerdatangan para sayid yang menetap di Wonosobo, Bawang, maupun Banjarnegara, mereka ada yang kembali membangun pendidikan agama Islam didesa-desa di wilayah kabupaten Pekalongan.
Sumber-sumber dari kalangan ulama di Pekalongan telah member keterangan tentang kegiatan yang berhubungan dengan adanya makam-makam ulama Islam yang hidup dan melakukan kegiatannya pada paska perang Diponegoro. Salah satu diantaranya adalah Ki Buyut Marina di desa Godean, Wonopringgo yang dianggap sebagai makam tertua pada masa pra kolonial. Didalam mengembangkan agama Islam bersamaan dengan lahirnya Organisasi-organisasi Islam sepperti Nahdatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah dan pengembangan yang dilakukan oleh para sayid melalui jamaah pengajian telah membawa kegiatan dibidang pendidikan Islam baik melalui pondok Pesantren maupun pendidikan yang bersifat klassikal telah berkembang dan dengan cepat telah menelorkan kader-kader perjuangan untuk menuju kemerdekaan.
Pada masa kolonial para ulama Pekalongan Nampak lebih mengutamakan kemaslahatan dimana mereka didalam perjuangan membangun pendidikan Islam secara mandiri juga telah membangun ekonominya melalui usaha dagang. Oleh karerna itu ulama-ulama Pekalongan dalam kurun decade masa awal kemerdekaan dapat dikatakan sebagai ulama pedagang. Perkembangan lebih lanjut sekitar tahun 1940 diwilayah pedesaan telah tumbuh Pondok Pesantren yang didirikan oleh ulama yang dating dari berbagai daerah, baik dari Jawa Timur, Jawa Barat (Cirebon) maupun dari Sumatra.
Pada tahun 1800 telah berdiri Pondok Pesaantren didesa Simbang Kulon yang dipimpin oleh Kiai Amir. Kegiatan tersebut dimulai sekitar tahun 1840. Kemudian di desa Kanayagan kota Pekalongan teklah berdiri Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Kiai Agus. Pada tahun 1900 Kiai Syafii telah dating dari Pondok Pesatren Kaliwungu Kendal dan di Buaran telah membangun Pondok Pesantren. Kiai Syafii selain seorang ulama yang sangat berpengaruh, juga seorang pejuang kemerdekaan, yang pada peristiwa berdarah pada 3 Oktober 1945 di Pekalongan telah mengobarkan semangat kepada santeri dan masyarakat Pekalongan telah mengusir Jepang dari Pekalongan. Pada tahun 1848 di desa Wagean Keranji Wonopringgo telah berdiri Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Kiai Anwar. Akan tetapi sebelumnya didesa Keranji sudah ada Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Kiai H. Anwar. Pada tahun 1948 di Banyuurip juga berdiri Pondok Pesantren yang dipimpin oleh K.H. Mudakir. Sementara itu pada tahun 1939 seorang ulama dari Cirebon yang bernama K.H. Syarif telah mendirikan Pondok Pesantren di Wonopringgo Bersamaan itu didesa-desa seperti desa Sepahit telah berdiri pondok pesantren yang dipimpin K.H. Adam. Adanya makam-makam ulama Islam yang hidup pada periode sebelumnya, seperti adanya makam Syekh Nurul Anom pengembangan Islam di kabupaten Pekalongan hamper meliputi seluruh wilayah desa-desa di Pekalongan. Dengan demikian meskipun tidak Nampak menyolok perkembangannya pondok pesantren di Pekalongan terus tumbuh sampai sekarang.


Sebagai Kota Santri
Sejak tahun 1926 hingga 2008, Pondok Pesantren yang berada diwilayah Pekalongan telah mencapai 109 pondok. Beberapa desa kecamatan diwilayah Kabupaten Pekalongan hampir semuanya memiliki Pusat Pendidikan Pondok. Beberapa kecamatan diantaranya kecamatan Kandang Serang terdapat 3 pondok pesantren dengan jumlah santrinya kurang lebih 300 siswa santri. Di kecamatan Peninggaran terdapat 8 pondok pesantren yang berdiri rata-rata sejak 1982 hingga 2002 . Yang diasuh oleh 20 Kiai dengan jumlah santri sebanyak 1197 siswa santri. Kemudian di Wonopringgo terdapat 10 pondok pesantren yang diasuh oleh 20 orang Kiai dengan jumlah santri 1301 siswa santri. Di kecamatan Kedung Wuni terdapat 21 pondok pesantren yang diasuh oleh 94 orang pimpinan dengan jumlah siswa santri 5063 siswa santri. Di kecamatan Buaran terdapat 6 pondok pesantren yang diasuh oleh 17 orang pimpinan dengan jumlah siswa 953 orang siswa santri. Di kecamatan Tirto terdapat 9 pondok pesantren dengan 16 oang pimpinan dengan jumlah siswa 747 orang siswa santri. Dikecamatan Doro terdapat 5 pondok pesantren yang diasuh oleh 13 orang pimpinan dengan jumlah siswa santri 761 orang siswa santri. Di kecamatan Kajen terdapat 7 pondok pesantren yang diasuh oleh 19 orang pimpinan dengan jumlah siswa santri 1221 orang siswa santri. Di kecamatan Kesesi terdapat 5 pondok pesantren dengan 8 orang pimpinan dengan jumlah siswa 301 siswa santri. Di kecamatan Talun terdapat 2 pondok pesantren yang diasuh oleh 4 orang pimpinan dengan jumlah siswa 220 siswa santri. Di kecamatan Sragi dan Bojong terdapat 5 buah pondok pesantren yang diasuh oleh 16 orang pimpinan denga jumlah siswa santri sebanyak 1099 orang siswa sanatri. Sejumlah pondok pesantren yang berada dikecamatan Wirodeso, Siwalan, Karangdadap, Wonokerto terdapat 16 pondok pesantren yang dipimpin oleh 279 orang pimpinan dengan jumlah siswa 15.281 orang santri.
Dengan banyaknya pusat pendidikan pesantren yang berada dikabupaten Pekalongan tsangat tepat kalau kabupaten Pekalongan mendapat julukan sebagai kota santri.

Profil Singkat Habib Abu Bakar Bin Yahya Geritan

Profil Singkat Habib Abu Bakar Bin Yahya Geritan



Pekalongan bukan kota baru, Pekalongan adalah kota tua. Dapat dikatakan Pekalongan termasuk kota tertua di Jawa. Di Jawa ada tiga kota tua; Jeporo, Pekalongan dahulu lebih dikenal Plelen atau Alasroban. Plelen itu mulai dari pantai utara Pekalongan sampai Weleri disebut Alasroban. Alasroban itu bukan berarti hanya Waleri Banyu Putih dari Subah sampai pantai utara itu disebut Alasroban. Dijaman sebelum wali 9 Pekalongan sudah ada. Bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa Pekalongan itu kota tua bisa dilihat dari bukti-bukti peninggalan sejarah terutama makam-makam tua yang ada di Pekalongan, Batang dan sekitarnya. Karena dulu Batang termasuk kabupaten Pekalongan.
Kita ambil mulai dari Syekh Jamaludin Husen dahulu. Beliau dengan rombongannya berlabuh melalui Pasai. Beliau kelahiran dari Indo-Cina, daerah Kamboja, Vietnam dan sekitarnya. Ibu beliau dari Champa ayah beliau Ahmad Syah Jalal adalah kelahiran India dan ayah Syah Jalal adalah menantu raja India Naser Abad. Ahmad Syah Jalal menikah dengan putri raja Champa. Putri Champa itu melahirkan Syekh Jamaludin Husen.dari Jamaludin Husen beliau mempunyai anak 11. Itulah kakek dari wali 9. Perjalanan Syekh Jamaludin dengan para ulama yang dari Timur Tengah. Ada juga yang dari Maroko. Maka rombongan tersebut ada yang menyebut al Maghrobi-al maghrobi. Rombongan tersebut yang pertemuannya Dipasai langsung menuju Jawa, tepatnya Semarang.



Dari Semarang meneruskan perjalannya ke Trowulan-Mojokerto. Karena akhlaknya dan budi pekertinya yang baik beliau sangat di hormati di Maja Pahit. Meskipun beda agama pada waktu itu, beliau mendapat beberapa sebidang tanah dari Gajah Mada. Terutama membuat sebuah padepokan pendidikan yang mana santri beliau itu tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Selain itu juga karena sangat popular maka disbut syekh Jumadil Kubro. Rombongan beliau berpencar dalm menjalankan tugasnya masing-masing. Yang terbanyak di Jawa Timur, Jawa Tengah, sebagian kecil ke Jawa Barat. Dan makam-makam beliau dinamakan almaghrobi-al maghrobi. Kalau makam almaghrobi itu banyak sekali, pantas, karena orangnya bukan satu tapi banyak.

Rombongan kedua dipimpin oleh dua tokoh.yang pertama Malik Ibrohimdan Sayid Ibrohim Asmoro qondi atau Pandito Ratu. Ketika itu, rombongan Malik Abdul Ghofur yang juga merupakan kakak Malik Ibrohim yang disebut juga Almaghrobi-almaghrobi. Rombongan ini lebih banyak dari sebelumnya. Malik Ibrohim itu cucu dari Syekh Jumadil Kubro. Rombongan ini juga berpencar, dan diantara robongan-rombongan tersebut ada yang ke Pekalongan sekitar 25 al Maghrobi. Makam beliau juga terpencar-terpencaer dengan nama Maulana Maghrobi.

Diantaranya Prabu Siliwangi memanggil beliau itu kakek (pernahnya).Jadi Maulan Maghrobi itu lebih tua dari Prabu Siliwangi. Diantara anggota rombongan ada yang wafat satu orang. Yang wafat ini dimakamkan di pesisir Semarang. Juga dikenal dengan Syekh Jumadil Kubro. Lokasinya dekat Kali Gawe. Dan ada juga yang wafat di Pekalongan, namanya yang pertama Syarifudin Abdullah, Hasan alwi al Quthbi. Beliau bersama rombongannya tinggal di dareh Blado Wonobodro. Terus yang dua orang lagi Ahmad al Maghrobi dan Ibrohim Almaghrobi tingal di daerah Bismo. Tiga tokoh tersebut dimakamkan di Bismo dan Wonobodro. Yang di Bismo membangun masjid di Bismo yang di Wonobodro membangun masjid di Wonobodro. Terus yang disetono Abdul Rahman dan Abd Aziz Almaghrobi.

Diantaranya lagi Syekh Abdullah Almaghrobi Rogoselo, Sayidi Muhammad Abdussalam Kigede Penatas angina. Jadi Almaghrobi tersebut empat generasi; generasi Jamaludin al Husen, generasi Ibrohim Asmoroqondi dan generasi Malik Ibrohim dan generasi Sunan Ampel. Termasuk yang dimakam kan di Paninggaran, daerah Sawangan; Wali Tanduran. Beliau itu termasuk generasi kedua walaupun bukan golongan al Maghrobi. Beliau sangat gigih dalam syi’ar Islam di Paninggaran. Kalau dalam bahasa Sunda Paninggaran itu berarti cemburu.
Di Pekalongan ini masih terpengaruh, sebagian Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur. Karena perbatasan Mangkang itu wilayah Majapahit terus kebarat ikut Pajajaran kuno. Pekalongan sendiri terpengaruh bahasa-bahasa sunda seperti ada nama tempat, Cikoneng Cibeo di daerah sragi.

Kalau kita melihat pertumbuhan islam pada waktu itu yang dibawa oleh beliau-beliau belum al Magrobi-Almaghrobi. Yang 25 tersebut sebagian dimakamkan di Wonobodro, sebelum wali 9 yang masyhur itu, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri Sunan, Kali Jogo dll, itu sudah ada wali sembilan seperti lembaga wali Sembilan jamannya Sunan Ampel itu. Lembaga wali Sembilan itu seperti Wali Abdal, Wali Abdal itu ada 7. Wafat satu akan ada yang menggantikannya, wafat satu ganti, wafat satu ganti dan seterusnya. Jumlahnya tidak lepas dari 7. Nah wali 9 pun demikian. Termasuk Kigede Penatas Angin itu wali 9, yang Wonobodro juga bagian dari wali Sembilan, tentunya generasi sebelum wali Sembilan yang masyhur itu.

Ki Gede Penatas Angin adalah yang mempertahankan Pekalongan dari serangan Portugis. Pada waktu wali 9 dijaman Sunan Gunung Jati diantaranya sudah ada yang masuk ke Pekalongan. Juga yang namanya Kiyai Gede Gambiran di pesisir pantai. Tapi karena terkena erosi sekarang Gambiran sendiri sudah tidak ada. Ada lagi Sayid Husen didaerah Medono dikenal makam Dowo Syarif Husen, beliau itu juga hidup dijaman wali 9. Diantara tahun 1590 an, sebelim masuk pejajahan Belanda.

Pekalongan walaupun tidak banyak disebut dalam sejarah Demak tapi dekat hubungannya dengan kerajaan Demak. Pekalongan tahun1900 lebih seadikit pelabuhannya didaerah Loji daerah hilir. Makanya didaerah sekitar nama-nama desanya seperti Bugis; Bugisan, Sampang; Sampangan, itu diantaranya. Pekalongan pada waktu itu sudah mulai maju. Dalam pendidikan agama, ekonomi dan lain s sebagainya. Di Dieng dan daerah sekitarnya ada beberapa Candi. Itu menunjukkna kultur di Pekalongan sudah maju. Di daerah Reban sampai Blado itu pernah ditemukan situs air langga. Itu semua menunjukan kalau Pekalongan sudah tua, hanya kita belum menemukan bukti secara kongritnya. Pekalongan pada waktu itu sudah maju, diantara buktinya pada jaman Sultan Agung Pekalongan pada waktu itu sudah mendapat kepercayaan menjadi tempat lumbung-lumbung padi atau beras.

Dan diantara tokoh-tokoh yang berperan pada waktu itu, di adalah tokoh yang di makamkan di Sapuro, yaitu Ki Gede Mangku Bumi sayang makamnya sudah rusak. Jaman almarhum Pak Setiono saya masih sempat meminta untuk menulis tentang tokoh itu. Beliau meninggal pada tahun 1517 Masehi, makamnya di Sapuro belakang masjid. Ada lagi walaupun aslinya dari Bupati Pasuruan Raden Husen Among Negoro, beliau meninggal tahun 1665 dimakamkan di belakang masjid Sapuro. Beliau adalah Putra Tejo Guguh, Putra bupati Kayu-Gersik ke dua. Beliau ini yang menurunkan bupati Pekalongan yang pertama. Pada waktu itu penduduk sudah ramai disusul dengan beberapa tokoh yang lain seperti Ki Hasan Sempalo atau Kyai Ahmad Kosasi adalah menantu beliau.

Bupati Pekalongan yang namanya Adipati Tanja Ningrat meninggal tahun 1127 H. Dimakamkan di Sapuro juga sejaman dengan Jayeng Rono Wiroto putra Amung Negoro. Kiyai Gede Hasan Sempalo. Dan di Noyontaan (Jl. Dr. Wahidin) ada Kiyai Gede Noyontoko hingga desa tersebut disebut Noyontaan, sebabwaktu tokoh yang membuka adalah Ki Gede Noyontoko. makamnya di dalam Kanzus Sholawat. Dulu di belakang rumahnya Pak Teko meninggal tahun 1660 M. dan banyak lagi seperti Wali Rahman di Noyontaan, dulu di Tikungan jl toba atau di depan pabrik Tiga Dara sekarang makam nya sudah hilang.

Sesudah pekalongan mulai rame datang pula tokoh-tokoh yang popular datang dari Hadramaut Yaman beliau adalah Habib Abubakar bin Toha. Habib Abu Bakar lahir didaerah Tarim namanya daerah Gorot. Makanya kayu geritan itu berasal dari kata Gorot. Sekitar abad 17 sebelum masuk Indonesia beliau berdakwah di India, Malaysia, Malaka, Pasai lalu Kalimantan. Beliau pernah tinggal di sebuah desa namanya Angsana daerah Kalimantan Selatan dan masuk ke Surabaya menuju ke Jogja. Beliau dikenal sebagai tokoh pendamai; baliaulah yang menyatukan menyelesaikan sengketa-sengketa. Beliau sangat tinggim ilmunya dan sangat di segani. Beliau mendapatkan gelar Penembahan Tejo Hadi Kusumo. Setelah itu beliau masuk di Pekalongan tinggal di daerah Karang Anyar.

Habib Abu bakar masuk daerah ini karena urutanya dekat dengan Ki Hasan Cempalo, beliau mendirikan padepokan. Kiyai Bukhori salah seorang tokoh pernah menceritakan kalau dijaman nabi beliau seperti sahabat nabi, maksudnya kedudukan kewaliaanya sangat tinggi beliau termasuk golongan Bin Yahya. Pertamakali masuk ke daerah wonopringgo. Guru beliau banyak sekali diantaranya pengarang kitab Nashoih Addiniyah; al Habib Abdullah bin Alwi al Hadad. Dan murid Habib Alwi Al Hadad di Indonesia banyak sekali.

Habib Abu Bakar meninggal tahun 1130. Gurunya adalah paman dan ayahnya sendiri yang sangat popular kewaliannya dan banyak lagi guru-guru yang lain. Dan murid-murid beliau di Pekalongan dan luar Pekalongan banyak sekali. Termasuk kakennya Kyai Nurul Anam dimakamkan di Kayu Geritan juga. Daerah dakwahnya terpencar. selain mengajarkan ilmu agama juga ilmu yang lainnya seperti ilmu kelautan dan ilmu-ilmu lainnya. Beliau dan kakaknya; bertiga, Sayid Abdurahman, Sayid Abu Bakar dan sayyid Muhammad Qadhi.

Sayyid Abdurahman di Cirebon dan Sayyid Muhammad Qodli di Semarang Terboyo. Beliau mendapat gelar banyak selain sunan Qodli juga gelar Ki Gede Semarang. Beliau; Syekh Abu Bakar bin Toha juga sangat gigih memimpin dalam melawan Belanda. Ketiga kakak-adik tersebut hampir sama dalam pola dakwahnya, dan juga sama-sama sangat gigih dalam melawan Belanda. Selain makam beliau di Kayu Geritan juga ada makam kasepuhan lainnya, diantaranya Qodli Shon’a, juga dua pamenang atau prajurit dari Mataram.

Lalu kakenya dan ayahnya Nurul Anam dan tokoh ke bawah Kiyai Utsman, Kiyai Asy’ari Karang Anyar. Beliau itu juga dimakam kan di Kayu geritan. Kalau kiyai utsman sebelah barat Kiyai Asy’ari sebelah timur. Tokoh-tokoh dahulu yang ziarah ke Kayu Geritan ini adalah tokoh-tokoh yang top semuanya. Habib Hasyim selain sering ziarah ke makam Habib Abu Bakar bin Thoha ini, juga sumbernya sejarah makam ini. Selain sumbernya dari beliau, saya juga mengambil dari beberapa kitab diantaranya kitab punya Sayyid bin Tohir Mufti Johor Malaysia. namanya Alatho’if, dan buku-buku atau kitab-kitab silsilah. Jadi ada bukti sejarahnya dan jelas kita tidak ngawur dalam hal ini.

(Hasil wawancara Kabag Humas Kab. Pekalongan pada Al-Habib M. Lutfi bin Yahya di Kayu Geritan/nzr/ts/hly.net)

Sayid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban

Sayid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban

Sayid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban
Sang Pembabat Kawasan Timur Pulau Jawa
Perjuangan Sayid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban dalam membabat kawasan timur pulau Jawa menjadi daerah yang sarat dengan nilai-nilai religius sudah tidak disangsikan lagi. Hasil jerih payahnya masih dapat kita saksikan sampai sekarang
Sekitar pertengahan abad ke-16 M tersebutlah seorang pemuda gagah berdarab Arab di pinggir laut Jawa, Cirebon. Selama beberapa bulan, ia berlayar dari kampung halamannya di negara Yaman. Saat itu memang sedang gencar-gencarnya orang-orang Arab berimigrasi ke Tanah Jawa. Dan salah satu dari mereka adalah Abdurrahman Ba Syaiban.
Ba Syaiban adalah gelar warga habib keturunan Sayid Abu Bakar Syaiban, seorang ulama terkemuka di Tarim, Hadhramaut yang terkenal alim dan sakti. Sayid Abu Bakar mendapat julukan Syaiban (yang beruban) karena ada kisah unik dibalik julukan itu. Suatu ketika, Sayid Abu Bakar yang saat itu masih tergolong muda menghilang. Sejak itu ia tidak muncul-muncul. Konon, iauzlah untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Baru, setelah tiga puluh tahun, Sayid Abu Bakar muncul di Tarim. Anehnya, ia tetap muda. Tapi yang lebih aneh lagi, rambutnya telah berubah putih keperakan, tak sehelai rambutnya yang berwarna hitam. Kepalanya seperti berambut salju. Sejak ituah orang-orang menjulukinya Syaiban (yang beruban).
Abdurrahman masih tergolong cicit dari Sayid Abu Bakar Ba Syaiban. Ia putra sulung Sayid Umar bin Muhammad bin Abu Bakar Ba Syaiban. Lahir pada abad ke-16 M di Tarim, Yaman bagian selatan sebuah perkampungan sejuk di Hadhramaut yang masyhur sebagai gudang para wali dan auliya’ Allah.
Ketika dewasa ia merantau ke Nusantara, tepatnya di Pulau Jawa. Sayid Abdurrahman memilih tempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Beberapa waktu kemudian ia mempersunting putri Maulana Sultan Hasanuddin, Demak. Putri bangsawan itu juga masih keturunan Rasulullah. Ia bernama Syarifah Khadijah dan masih cucu Raden Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati.
Dari pasangan ini lahir tiga putra, yakni Sayid Sulaiman, Sayid Abdurrahim dan Sayid Abdul Karim. Mewarisi keturunan leluhurnya dalam berdakwah, keluarga ini berjuang keras menyebarkan Islam di Jawa, tak jauh dengan apa yang telah dilakukan oleh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Pengaruh dan ketekunan mereka dalam berdakwah membuat penjajah Belanda khawatir. Maka ketika menginjak dewasa Sayid Sulaiman dibuang oleh mereka. Ia kemudian tinggal di Krapyak, Pekalongan Jawa Tengah. Di Pekalongan, ia menikah dan mempunyai beberapa orang putra. Empat diantaranya laki-laki yakni Hasan, Abdul Wahhab, Muhammad Baqir dan Ali Akbar.
Dari Pekalongan, Sayid Sulaiman berkelana lagi. Kali ini, ia menuju Solo sebagai tempat tujuan berdakwah. Selama di Solo, ia terkenal sakti mandraguna. Kesaktiannya yang sudah masyhur itu mengundang rasa iri seorang ratu dari Mataram. Sang ratu ingin membuktikan kesaktian Sayid Sulaiman. Maka diundanglah ke keraton Mataram yang saat itu sedang berlangsung pernikahan putrid bungsu sang Ratu. Untuk memeriahkan pesta pernikahan putri bungsunya itu, Ratu meminta Sayid memperagakan pertunjukan yang tak pernah diperagakan oleh siapa pun.
Mendengar permintaan sang Ratu, sayid meminta pada Ratu untuk meletakkan bamboo di atas meja, sembari berpesan untuk ditunggu, Sayid Sulaiman lalu pergi kea rah timur. Masyarakat sekitar kraton menunggu kedatangan Sayid sedemikian lama, namun Sayid belum juga dating. Ratu Mataram hilang kesabaran. Ia marah, lalu membanting bambu di atas meja hingga hancur berkeping-keping. Ajaib, kepingan bamboo-bambu itu menjelma menjadi hewan bermacam-macam. Ratu Mataram tersentak kaget melihat keajaiban ini, barulah ia mengakui kesaktian Sayid Sulaiman.
Ratu Mataram kemudian menitahkan beberapa prajuritnya untuk mencari Sayid Sulaiman. Sedang hewan-hewan jelmaan bamboo itu terus dipelihara. Hewan-hewan itu ditampung dalam sebuah kebun binatang yang kemudian diberi nama Sriwedari. Artinya, Sri adalah tempat, sedangkanWedari adalah wedar sabdane Sayid Sulaiman. Kebun binatang itu tetap terpelihara.Tak lama berselang, Sriwedari menjadi sebuah taman dan objek wisata terkenal peninggalan Mataram.
Setelah meninggalkan Solo, Sayid Sulaiman menuju ke timur tepatnya, Ampel Surabaya. Ia kemudian berguru kepada santri-santri Raden Rahmat, Sunan Ampel. Kabar keberadaan Sayid Sulaiman akhirnya sampai ke telinga Ratu Mataram. Ia mengirim utusan ke Surabaya untuk memanggilnya. Diantara utusan itu ternyata ada Sayid Abdurrahim, adik kandungnya sendiri. Sesampainya di Ampel, ia sangat terharu bertemu kembali dengan kakaknya tercinta. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. Ia juga ingin belajar kepada santri-santri Sunan Ampel bersama Sayid Sulaiman.
Setelah nyantri di Ampel, kakak beradik ini pergi ke Pasuruan untuk nyantri kepada Mbah Sholeh Semendi di Segoropuro. Lepas dari itu mereka mondok di Mbah Soleh, Sayid Sulaiman tinggal di Kanigoro, Pasuruan. Sehingga ia mendapat julukan Pangeran Kanigoro dan sempat pula menjadi penasehat Untung Surapati. Untung Surapati adalah tokoh terkemuka Pasuruan dan tercatat sebagai pahlawan yang berjasa mengusir penjajah Belanda dari Nusantara.
Berita kesaktian Sayid Sulaiman juga terdengar oleh Ratu Keraton Pasuruan. Ratu Pasuruan tidak percaya tentang kesaktiannya. Ia seringkali melecehkan kesaktian Mbah Sayid. Sampai suatu ketika Putri Keraton yang sedang berjalan-jalan keliling kota hilang. Sang ratu menjadi bersedih bermuram durja.
Lalu diadakanlah sayembara; Bagi yang menemukan sang putri, akan mendapat hadiah yang sangat besar. Tapi malang, sampai berhari-hari diadakan sayembara itu, tak satupun dari peserta yang berhasil menemukan sang putri. Akhirnya, sang Ratu meminta bantuan Sayid Sulaiman, dan dengan mudah ia menemukan sang putri keraton. Begitu sampai di hadapan Sang Ratu, Sayid Sulaiman memasukan tangannya ke dalam saku. Tak berapa lama kemudian ia melemparkannya ke halaman. Luar biasa! Dengan ijin Allah, sang putri muncul dengan kereta dan kusirnya di halaman Keraton. Konon, ia dibawa lari oleh jin ke alam gaib.
Melihat putrinya kembali, ia menjadi gembira, dan meminta Sayid Sulaiman menikahi putrinya sebagai ucapan terima kasih atas jasanya itu. Namun, Sayid Sulaiman menolaknya, ia lebih memilih tinggal di Kanigoro dan tak berapa lama kemudian ia diambil menantu oleh Mbah Soleh Semendi. Sayid Sulaiman juga mempunyai istri dari Malang dan mempunyai seorang putra yang bernama Hazam.
Setelah menikah dengan putri kedua Mbah Soleh, Sayid Sulaiman kembali ke Cirebon. Tapi suasana Cirebon dan banten saat itu sedang terjadi kericuhan besar, dimana Sultan Ageng Tirtayasa sedang berperang dengan putranya sendiri yakni Sultan Haji (1681-1683). Melihat pertikaian ini, Sayid Sulaiman kemudian kembali ke Pasuruan dan menetap di desa Gambir Kuning.Di Gambir Kuning ia mendirikan dua buah masjid dan sampai sekarang masjid itu masih ada dan mengalami sedikit perubahan pada lantai dan sebagian bangunan lainnya.
Rupanya kekeramatan Sayid Sulaiman kembali di dengar oleh Ratu Mataram, kembali ia memanggilnya untuk bertemu. Ratu Mataram kemudian menurus salah satu Adipatinya untuk menemuinya dan mengajak Sayid Sulaiman untuk bertemu dengan sang Ratu. Bersama tiga orang santrinya yakin, Mbah Jaelani (Tulangan, Sidoarjo), Ahmad Surahim (putra Untung Surapati), dan Sayid Hazam (putranya) mereka berangkat ke Solo. Ratu Mataram pada waktu itu berembuk untuk mengangkat Sayid Sulaiman sebagai hakim, namun ia menolak dengan alasan akan meminta pertimbangan dan restu dari istri dan masyarakat yang ada di Pasuruan.
Tentu saja, mereka yang ada di Pasuruan tidak menyetujuinya. Sayid Sulaiman kemudian pamit kepada istrinya yang sedang hamil tua untuk pergi ke Solo. Namun di tengah perjalanan, tepatnya di kampung Batek, Mojoagung Jombang, ia jatuh sakit. Selama masa sakit, ia dirawat oleh seorang kiai bernama Mbah Alif sampai beliau wafat dan kemudian wafat dan di makamkan di sana.
Perjuangan Sayid Sulaiman dalam membabat kawasan timur pulau Jawa menjadi daerah yang sarat dengan nilai-nilai religius sudah tidak disangsikan lagi. Hasil jerih payahnya masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Sayid Sulaiman berjasa mendirikan pesantren Sidogiri,s ebuah pesantren tertua di Jawa Timur dan menurunkan pewaris perjuangan, di mana anak keturunannya di kemudian hari banyak menjadi pemangku pesantren-pesantren besar di tanah Jawa, mulai dari pesantren Sidogiri (Pasuruan), Sidoresmo (Surabaya), Al Muhibbain (Surabaya) sampai Syaikhona Cholil (Bangkalan).
Sayid Sulaiman dari istri pertamanya di Krapyak (Pekalongan), ia dikaruniai empat putra yakni Hasan, Abdul Wahab, Muhammad Baqir (Galuran, Sidoarjo) dan Ali Akbar. Dari galur Abdul Wahab banyak keturunannya yang tinggal di Magelang dan Pekalongan. Sedangkan dari jalur Muhammad Baqir berada di Krapyak (Pekalongan).
Abdul Wahab dan Hasan (Pangeran Agung) dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan penjajah Portugis dan Belanda. Melalui jalur Ali Akbar terlahir ulama-ulama pemangku pesantren di Jawa Timur seperti Sidogiri, Demangan (Bangkalan), dan Sidoresmo (Surabaya).
Sayid Ali Akbar meninggalkan enam putra yakni Imam Ghazali (Tawunan, Surabaya), Sayid Ibrahim (Kota Pasuruan), Sayid Badrudin (makamnya di sebelah Tugu Pahlawan, Surabaya), Sayid Iskandar (Bungkul, Surabaya), Sayid Abdullah (Bangkalan, Madura), Sayid Ali Ashghar (Sidoresmo).
Dari Sayid Abdullah inilah menurunkan para pemangku pesantren Sidogiri dan Demangan (Bangkalan) yang memiliki puluhan ribu santri. Keturunan dari Sayid Ali Ashghar di Surabaya banyak tinggal di Sidoresmo dan Sidosermo. Sekarang, di dua desa itu terdapat sekitar 28 pondok pesantren dan semuanya adalah anak keturunan dari Sayid Sulaimain. Sayid Ali Asghar juga menurunkan ulama-ulama pemangku pesantren di Tambak, Yosowilangon. Dari istri kedua, putri mbah Soleh Semendi Sayid Sulaiman menurunkan Sayid Ahmad (Lebak, Pasuruan). Dari istri ketiganya di Malang, ia mempunyai satu putra, Sayid Hazam.